Subscribe:

Contact

+6285241330699; +6285397403917 www.twitter.com/anastasyadebby

Rabu, 02 November 2011

Makna Sejati Berjihad di Jalan Allah

Di era pasta perang dingin, medan pertempuran umat manusia sebetulnya sudah bergeser dari peperangan fisik dan senjata ke medan-medan baru seperti teknologi, pemasaran, peradaban, dan sebagainya. Perang yang dilakukan Amerika Serikat dengan negara-negara sekutunya dalam beberapa tahun terakhir, khususnya terhadap negara-negara Muslim, sudah diakui sebagai kekeliruan besar oleh banyak kalangan Barat. Perang fisik dan senjata seperti ini diharapkan akan semakin berkurang di masa depan. Dengan sendirinya, konteks jihad di jalan Allah harus didudukkan pada proporsi yang sebenarnya, yakni berjihad menegakkan aturan Allah dan menghentikan mengerjakan larangan-Nya.
Selain peperangan untuk menegakkan agama Islam dan melindungi orang-orang Islam, jihad juga bisa berarti memerangi hawa nafsu, mendermakan harta benda untuk kebaikan Islam dan umat Islam, memberantas yang batil dan menegakkan yang hak, dan memajukan umat Islam dari keterbelakangan dan kemiskinan di jalan Allah. Tidak semua jihad itu harus mengorbankan harta dan jiwa, kendati umat Islam harus selalu siap melakukan pengorbanan jiwa sekalipun.
Perang melawan hawa nafsu adalah wujud jihad yang nyata dalam keseharian umat manusia. Allah telah memberikan manusia hawa nafsu di mana manusia harus mengendalikan hawa nafsu tersebut dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Hawa nafsu merupakan ladang empuk bagi setan untuk menyesatkan manusia, sementara kita tahu setan tidak akan pernah lengah menggoda manusia. Oleh sebab itu, perjuangan melawan hawa nafsu sesungguhnya adalah perjuangan yang jauh lebih berat dibandingkan dengan perang fisik yang sebenarnya.
Perhatikan sabda Rasulullah SAW: Kita baru selesai dari farad yang kecil dan akan menghadapi jihad yang besar. Sahabat bertaniya, apakah jihad yang besar itu ya Rasulullah? Rasulullah SAW menjawab: “Jihad melawan hawa nafsu.”
Menderma akan harta benda, termasuk berupa ZIS (zakat, infak, dan sedekah), untuk kebaikan agama dan umat Islam, juga membutuhkan pengorbanan, yaitu kerelaan dan keikhlasan. Ketika berkelapangan, pengorbanan semacam ini tidaklah sulit untuk dilakukan. Namun, tidak selamanya manusia berada dalam kondisi yang lapang. Pada saat seperti ini menuju ujian sebenarnya terhadap keimanan dan ketakwaan. Kita harus berjihad menegakkan perintah Allah, Surat (3) Ali imran ayat 134, bahwa manusia wajib menafkahkan (hartanya) baik di kala lapang maupun sempit.
Medan jihad berikutnya adalah memberantas yang batil dan menegakkan yang hak. Kehidupan manusia yang cenderung serakah sering berakibat merajalelanya kebatilan, dan lenyapnya kebenaran. Golongan yang memiliki kekayaan dan kekuasaan biasanya bertindak sewenang-wenang terhadap kaum yang lemah. Mereka memanfaatkan berbagai cara untuk mencapai tujuan, dari kekuatan uang hingga kekerasan dan jalur hukum serta politik. Kebenaran akhirnya mereka rampas.
Bagi umat Muslim, tindakan seperti ini harus dilawan. Mereka yang berada di jalur hukum, berjuanglah untuk menjadi adil yang sebenar-benarnya. Tegakkan hukum tanpa pandang bulu. Mereka yang bergerak di dunia usaha, berjuanglah mempraktikkan bisnis yang memiliki etika dan moral yang tinggi. Jangan pernah merugikan orang supaya Anda untung dalam berbisnis. Mereka yang mempunyai hati nurani, berjuanglah menyuarakan hati nurani untuk terwujudnya kebenaran. Dan, bagi mereka yang tertindas, berjuanglah menegakkan kebenaran kendati untuk itu harus dengan mengorbankan jiwa dan harta. Mari kita berjihad untuk mengatakan yang benar itu benar, dan yang salah itu tetap salah adanya.
Dalam pacuan adab dan teknologi kini dan mendatang, jihad yang tak kalah penting adalah memajukan umat Islam dari keterbelakangan dan kemiskinan. Keterbelakangan dan kemiskinan merupakan sumber utama kekafiran dan fanatisme sempit keagamaan. Banyak orang yang karena pengetahuannya kurang akhirnya bertindak melawan ketentuan Allah. Kemiskinan pun begitu. Ketika perut lapar dan keimanan lemah, manusia bisa menjadi kalap. Muncullah beraneka perilaku negatif: maling, merampok, membunuh, iri dan benci kepada mereka yang lebih kaya, terorisme, dan sebagainya.
Adalah tugas pemimpin (pemerintah) dan masyarakat untuk menjalankan jihad semacam ini. Pemimpin harus berjuang untuk mengentaskan masyarakat dari keterbelakangan dan kemiskinan melalui pendidikan, lapangan kerja dan lapangan usaha, menyediakan sarana ibadah, infrastruktur, dan seterusnya. Sedang masyarakat diharuskan untuk bersatu dan saling bantu menghapus keterbelakangan dan kemiskinan tersebut.
Tanggung jawab utama dari perjuangan melawan keterbelakangan dan kemiskinan tentu terletak pada diri umat Muslim itu sendiri. Harus ada tekad kuat dan upaya tanpa kenal lelah dari umat untuk melawan keterbelakangan dan kemiskinan tersebut. Surat (8) Al Anfaal ayat 53 menegaskan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib sebuah kaum sebelum kaum itu sendiri berusaha mengubahnya.
Peran masyarakat dan negara dalam mengentaskan keterbelakangan dan kemiskinan sangat penting karena ada manusia yang telah ditakdirkan hidup miskin sehingga mereka ini memerlukan pertolongan dari sesama manusia. Al Quran Surat (2) Al Bagarah ayat 273 menjelaskan:
(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja yang baik yang kamu nafkahkan (di Mall maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.
Jika umat Muslim merasa tertinggal dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan peradaban dari kalangan non-Muslim, maka umat Muslim harus berjuang terus untuk memajukan ilmu pengetahuan, teknologi, dan peradaban mereka untuk bisa setara dengan umat-umat lainnya. Umat Muslim tertinggal secara ekonomi sehingga hanya menjadi obyek dari negara non-Muslim, maka umat Muslim harus berjihad untuk menjadi sejahtera. Bila umat Muslim merasa hanya menjadi pasar dari produk/jasa/temuan/ inovasi kaum non-Muslim, maka umat Muslim harus berjuang untuk menciptakan produk /jasa / temuan/inovasi yang tak kalah unggul. Semuanya hanya dengan satu syarat: harus dilakukan di jalan Allah.
Potensi umat Muslim sebetulnya sangat luar biasa untuk melakukan itu semua. Sejarah peradaban dunia telah mencatat, jauh sebelum orang-orang Barat menguasai ilmu pengetahuan, umat Muslim jauh lebih maju dalam ilmu pengetahuan. Pada awalnya umat Muslim melakukan gerakan penerjemahan terhadap kitab-kitab kedokteran, ilmu falak, dan ilmu-ilmu pemerintahan dari bahasa-bahasa Yunani, Persia, dan India. Di masa Khalifah Ma’mun (813-817 M), beliau mengirim serombongan ahli terjemah ke Roma untuk menerjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan yang belum dimiliki oleh umat Islam dan membawanya ke Baghdad untuk diterjemahkan, diteliti, dan dibahas.
Tak sampai satu abad pemerintahan Abbasiyah, ulama-ulama Islam telah memiliki ilmu tersebut. Lahirlah ahli-ahli al hikmah dan falsafah yang tak kalah kualitasnya dengan ahli-ahli filsafat Yunani. Di antaranya Abu Yusuf Ya’kub bin Ishaq bin As-Shabagh al-Kindi, Ahmad bin Thayyib As-Sarakhsi, Muhammad bin Musa, Ahmad bin Musa, Al-Hasan bin Musa yang termashur dalam Ilmu Pasti, dan Muhammad bin Musa Al-Khuwarazmi yang menemukan ilmu Aljabar.
Sesudah gerakan penerjemahan dan penelitian ini datanglah masa penyempurnaan, penyusunan, dan penemuan sendiri. To-koh-tokoh yang terkenal dalam masa ini adalah Abu Natsir Muhammad bin Tarkhan Al Farabi atau Alphanabius, pencipta alat musik Al-Qmiun yang kernudian ditiru oleh orang Barat dengan nama piano, Abu Bakar Muhammad bin Zakaria Ar-Razy dan Syekh Abu Ali Al Husein bin Sina (Ibnu Sina) atau Avicemma, ahli Ilmu Kedokteran dan Kimia, dan Abur Raihan Ahmad bin Muhammad Al Biruni, ahli Ilmu Falak dan Ilmu Bumi Alam.
Di antara tokoh-tokoh yang termashur di kerajaan Fathimiyah, Mesir, adalah Ibnu Yunus dalam Ilmu Falak dan ilmu Alam dan Ibu Ridhwan dalam Ilmu Kedokteran. Sementara di Spanyol ada Abu Wahl’ Al Qadhi Ahmad Ibn Rusyd atau Avroes dan Abul Qasim Al-Zahrawi.
Para ulama tersebut mengarang ribuan buku dalam bahasa Arab yang kemudian diterjemahkan oleh orang-orang Barat ke dalam bahasa mereka. Di Andalusia, Spanyol, yang menjadi pintu gerbang Eropa, Islam menjadi tempat pengembangan budaya dan ilmu pengetahuan. Istana Singa dibangun dengan seni arsitektur tinggi. Universitas-universitas Islam dipenuhi mahasiswa untuk menuntut ilmu, sebagian berasal dari negara-negara Italia, Jerman, Perancis, dan Inggris. Kelak, merekalah yang mengambil-alih pijar ilmu dari Andalusia dan menjadi motor gerakan Renaisans di Eropa (The Celestial Management, karya A. Riawan Amin, 2004).
Perkembangan Islam yang berlangsung hingga tujuh setengah abad di Spanyol memainkan peran yang sangat besar di dalam mencerahkan Eropa yang sedang berada dalam era kegelapan (dark era). Masa kejayaan Islam diakhiri dengan Perang Salib 1085 M, di mana tidak kurang dari 30.000 judul buku yang disimpan di Cordoba dirampas oleh tentara Salib. Buku-buku ini yang kemudian dipelajari serta dikembangkan oleh ilmuwan Barat sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat seperti sekarang ini.
Banyak ilmuwan Eropa yang berusaha mengecilkan sumbangsih Islam itu. Namun dengan tegas, Montgomery Watt menulis dalam The Influence of Islam on Medieval Europe: “Pengaruh Islam terhadap dunia Kristen Barat lebih besar daripada yang disadari. Tugas penting kita bangsa Eropa Barat, ketika kita menuju zaman satu dunia, adalah mengakui sepenuhnya utang kita kepada bangsa Arab dan Dunia Islam.”
Mengamati secara cermat sejarah peradaban Islam dan Barat di atas, Islam pernah sangat unggul di bidang ilmu pengetahuan; bahkan orang Barat harus belajar dari dunia Islam. Maka, upaya jihad umat Muslim mengejar ketertinggalan ilmu pengetahuan, teknologi, dan peradaban dari umat lain dengan ijin Allah akan membuahkan hasil.
Tak ada yang tak mungkin bila kita berusaha dengan tekun dan cerdas dibarengi tekad yang kuat. Umat Muslim akan bisa bangkit bila bersatu mencari keridhaanNya, berjuang meraih akhlak mulia, dan berusaha keras menjadi umat yang unggul. Kita harus meninggalkan era kegelapan ini dengan mau belajar dari kemajuan umat non-Muslim dan menggali kekuatan Al Quran.
Surat (3) Ali Imran 139: langanlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.
Pustaka
TRANSCENDENTAL QUOTIENT (TQ) : Kecerdasan Diri Terbaik Oleh Syahmuharnis & Harry Sidharta
Source: www.requestartikel.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar